Wednesday, June 10, 2020

TOKOH PSIKOLOGI : ALBERT BANDURA Biografi, Struktur Kepribadian, Dinamika Perkembangan, dan Perkembangan Kepribadian Albert Bandura


A.  BIOGRAFI
Albert Bandura dilahirkan pada 4 Desember 1925, di Mundare, di dataran utara Alberta, Kanada. Ia anak laki-laki satu-satunya dari keluarga dengan lima kakak perempuan. Ayahnya berasal dari Polandia dan ibunya berasal dari Ukrania. Bandura didukung oleh kakak-kakak perempuannya untuk menjadi mandiri dan tdak bergantung dengan oranglain. Ia juga belajar untuk mengarahkan dirinya sendiri di sekolah kecil yang ada di kota tersebut, yang hanya sedikit memiliki guru dan sumber daya.
Setelah lulus dari SMA, Bandura bekerja diperusahaan penggalian jalan raya, di highway Alaska. Pengalaman ini membawanya berkenalan dengan sesama pekerja, kebanyakan dari mereka melarikan diri dari kreditor dan hutang. Selain itu, beberapa rekan kerjanya menunjukkan berbagai bentuk psikopatologi dengan kadar yang berbeda-beda. Walaupun observasinya terhadap sesama pekerja mulai menumbuhkan minatnya dalam psikologi klinis, ia tidak memutuskan menjadi psikolog sampai ia memasuki University of  British Columbia di Vancouver.
Keputusan Bandura untuk menjadi psikolog cukup tidak disengaja. Hal tersebut terjadi sebagai hasil dari kejadian yang tidak direncanakan. Di universitas, Bandura memutuskan untuk mengikuti suatu kelas psikologi yang kebetulan diadakan pada periode waktu tersebut. Ia merasa kelas tersebut menarik dan kemudian memutuskan untuk mengambil jurusan psikologi. Bandura kemudian menyadari bahwa kejadian yang tidak disengaja (seperti berangkat ke kampus dengan mahasiswa lain yang sejak pagi sudah melakukan kegiatan) mempunyai pengaruh yang penting dalam kehidupan manusia.

 
Bandura menerima gelar sarjana muda dalam waktu tiga tahun dibidang psikologi dari University of British Columbia tahun 1949. Kemudian dia masuk University of Iowa, tempat dimana dia meraih gelar Ph.D tahun 1952. Baru setelah itu dia menjadi sangat berpengaruh dalam tradisi behavioris dan teori pembelajaran.
Waktu di Iowa, dia bertemu dengan seorang instruktur sekolah perawat. Mereka kemudian menikah dan dikaruniai dua orang puteri. Setelah lulus, dia melanjutkan pendidikannya pasca program doktor di Wichita Guidance Center, Wichita, Kansas.  Buku pertama hasil kerja sama mereka berjudul Adolescent Aggression terbit tahun 1959. Buku-bukunya paling berpengaruh adalah Social Learning Theory (1977), Social Foundation of Tought and Action (1986), dan Self-Efficacy: The Exercise of Control (1997).
Bandura menjadi presiden American Psychological Association (APA) tahun 1974, dan menerima APA Award atas jasa-jasanya dalam Distinguished Scientific Contributions tahun 1980, ketua Western Psychological Association (1980), dan ketua kehormatan Canadian Psychological Association (1999). (Feist & Feist, 2016)

B.       TEORI DASAR

Bandura memfokuskan pada teori kognitif sosial yang akan dijadikan dasar untuk mempelajari kepribadian manusia. Teori pembelajaran sosial merupakan perluasan dari teori belajar perilaku yang tradisional (behavioristik). Teori pembelajaran sosial ini dikembangkan oleh Albert Bandura sejak tahun 1986. Teori ini menerima sebagian besar dari prinsip-prinsip teori-teori belajar perilaku, tetapi memberi lebih banyak penekanan pada kesan dari isyarat-isyarat pada perilaku, dan pada proses-proses mental internal. Dalam pandangan belajar sosial, manusia itu tidak didorong oleh kekuatan-kekuatan dari dalam dan juga tidak dipukul oleh stimulus-stimulus lingkungan.
Teori belajar sosial menekankan, bahwa lingkungan-lingkungan yang dihadapkan pada seseorang secara kebetulan. Lingkungan-lingkungan itu kerap kali dipilih dan diubah oleh orang itu melalui perilakunya sendiri. Menurut Bandura, bahwa sebagian besar manusia belajar melalui pengamatan secara selektif dan mengingat tingkah laku orang lain. Inti dari teori pembelajaran sosial adalah pemodelan (modelling), dan permodelan ini merupakan salah satu langkah paling penting dalam pembelajaran terpadu.
Menurut Bandura, proses mengamati dan meniru perilaku dan sikap orang lain sebagai model merupakan tindakan belajar. Tindakan belajar ini digambarkan pada dua asumsi pemikiran yaitu : Pertama, Bandura berpendapat bahwa manusia dapat berpikir dan dan mengatur tingkah lakunya sendiri. Kedua, Bandura menyatakan banyak aspek fungsi kepribadian melibatkan interaksi orang itu dengan orang lain. (Nurodin, 2019:99)
Kepribadian berkembang dalam konteks sosial, interaksi antara satu sama lainnya. Dengan demikian teori kepribadian yang tepat adalah yang mempertimbangkan konteks sosial tersebut. Dalam hal lain, Bandura menyetujui keyakinan dasar behaviorisme yang mempercayai bahwa kepribadian dibentuk melalui belajar (Feist & Feist,2016).

C.    STRUKTUR KEPRIBADIAN

1.        Sistem Self
Menurut Bandura, pengaruh yang ditimbulkan oleh self sebagai salah satu determinan tingkah laku tidak dapat dihilangkan tanpa membahayakan penjelasan & kekuatan peramalan. Self diakui sebagai unsure struktur kepribadian (Nurodin, 2019:99). Disini bandura memaksudkan bahwa self bukan untuk mengontrol tingkah laku, tetapi lebih memberikan suatu pedoman mekanisme tentang pengaturan tingkah laku. Self menjadi bagian dari sebuah sisten yang tidak berpengaruh secara otonom.
2.      Regulasi Diri
Regulasi merupakan sebuah proses berpikir untuik tujuan memanipulasi lingkungan, sehingga kemungkinan menghasilkan perubahan pada lingkungan yang disebabkan oleh manusia. Menurut Bandura, akan terjadi strategi reaktif dan proaktif dalam regulasi diri. Strategi reaktif dipakai untuk mencapai tujuan, namun ketika tujuan hampir tercapai strategi proaktif menentukan tujuan baru yang lebih tinggi. (Nurodin, 2019:100)
Ada 3 tahap yang terjadi dalam proses regulasi diri (Boeree, 2017: 242) antara lain:
-       Pengamatan Diri          : proses melihat diri / perilaku kita sendiri serta terus mengawasinya
-       Penilaian                      : proses membandingkan apa yang kita lihat pada diri dan perilaku kita dengan suatu standar ukuran.
-       Respon Diri                 : jika seseorang telah berhasil membandingkan antar perilaku yang terjadi selanjutnya mereka bisa memberi imbalan atas respon diri pada dirinya sendiri.

3.      Efikasi Diri
Efikasi Diri dapat diartikan sebagai persepsi seseorang mengenai kapasitas mereka untuk beraksi pada situasi di masa depan yang akan ia hadapi kelak. Sebagian besar efikasi diri dihasilkan dari peengalaman terkait keberhasilan dan kegagalan (Feist& Feist, 2010: 212). Pada teori ini, menunjukan bahwa manusia dengan efikasi diri yang lebih tinggi cenderung memilih untuk berupaya lebih giat mengerjakan tugas yang sulit, tetap tenang dan dapat mengelola pemikiran dalam pola analitis.Efikasi diri adalah hal yang umumnya dimiliki setiap orang yang berbeda dan pada situasi yang berbeda juga.
Hubungan antara efikasi diri yang dirasakan dan pencapaian cukup tinggi. Harapan efikasi diri merupakan kepercayaan mengenai apakah seseorang dapat melakukan perilaku tersebut untuk pertama kali. Berdasarkan pemahaman teori ini, menunjukan bahwa secara umum harapan efikasi diri lebih penting daripada harapan hasil sebagai penentu perilaku. Ketika seseorang kurang menguasai efikasi diri pada dirinya untuk mencapai sesuatu, hadiah dari pencapaian tujuan mungkin tidak relevan bagi mereka. (Lawrence, 2012: 231)

4.      Efikasi Kolektif
Struktur kepribadian yang ke empat disebut dengan Efiaksi Kolektif. Yang dimaksud dengan efikasi kolektif merupakan keyakinan masyarakat bahwa usaha mereka dapat bersama – sama dapat menghasilkan  perubahan  sosial. (Nurodin, 2019)

D.  DINAMIKA PERKEMBANGAN

Menurut Bandura, motivasi mempunyai dua sumber, gambaran hasil pada masa yang akan datang (yang dapat menimbulkan motivasi tingkah laku saat ini) dengan harapan keberhasilan yang didasarkan pada pengalaman menetapkan dan mencapai tujuan. Dengan kata lain, harapan mendapatkan renforcement pada masa yang akan datang akan memotivasi individu untuk bertingkah laku tertentu. Selain itu,  dengan menetapkan tujuan yang diinginkan dan mengevaluasinya, maka seseorang akan termotivasi untuk bertindak pada tingkat tertentu. Menurut Bandura, penguatan (reinforcement) dapat menjadi penyebab belajar. Orang dapat belajar dengan penguat yang diwakilkan (vicarious reinforcement), penguat yang ditunda (expectation reinforcement) atau bahkan tanpa penguat (beyond reinforcement).(Nurodin, 2019:101)
Menurut Bandura motivasi mempunyai dua sumber, yaitu:
1)   Gambaran hasil pada masa yang akan datang  atau yang dapat menimbulkan motivasi tingkah laku pada saat ini
2)   Harapan keberhasilan berdasarkan pada pengalaman.
           
Dengan kata lain, harapan pada masa yang akan datang akan memotivasi seseorang untuk bertingkah laku tertentu. Bandura setuju bahwa penguatan menjadi penyebab belajar. Namun sesorang juga dapat belajar dengan tiga penguatan seperti yang akan dijelaskan di bawah ini:
1.      Penguatan Vikarius (vicarious reinforcement), yaitu mengamati orang lain yang mendapat penguatan, membuat seseorang puas dan berusaha belajar.
2.   Penguatan yang ditunda (expectation reinforcement), orang terus menerus berbuat tanpa mendapatkan penguatan, karena yakin akan mendapatkan penguatan yang sangat memuaskan pada masa yang akan datang.\
3.      Tanpa penguatan (beyond reinforcement), belajar tanpa ada penguatan sama sekali

E.       PERKEMBANGAN KEPRIBADIAN
Belajar Melalui Observasi
Menurut Bandura, seseorang atau individu kebanyakan belajar tanpa adanya reinforcement yang nyata. Pada penelitian Bandura, hasilnya mengatakan bahwa individu melakukan proses belajar dengan cara melihat yang ia lihat dari pandangannya dan individu dapat belajar tidak harus dengan melakukan proses belajar seperti di sekolah. Dengan cara observasi disekeliling individu yang ia amati dapat ia pahami dan membuat pelajaran karena melalui observasi orang dapat melalui respon yang tidak terhingga tanpa batas. Selain itu, observasi jauh lebih efisien. Albert Bandura yang memandang bahwa semua perilaku merupakan hasil dari proses belajar yang berlangsung dalam situasi sosial melalui perilaku meniru atau mencontoh.(Boeree, 2017: 238)
Faktor-faktor Penting dalam Belajar Melalui Observasi
a.    Mengamati orang lain melakukan sesuatu tidak mesti berakibat belajar, karena belajar melalui observasi memerlukan beberapa faktor atau prakondisi. Menurut Bandura, ada empat proses yang penting agar belajar melalui obsevasi dapat terjadi, yakni:
·         Perhatian (attention process)
Sebelum meniru orang lain, perhatian harus dicurahkan ke orang itu. Perhatian ini dipengaruhi oleh asosiasi pengamat dengan modelnya, sifat model yang atraktif, dan arti penting tingkah laku yang diamati bagi si pengamat.


·         Representasi (representation process)
Tingkah laku yang akan ditiru, harus disimbolisasikan dalam ingatan. Baik dalam bentuk verbal maupun dalam bentuk gambaran/imajinasi. Representasi verbal memungkinkan orang mengevaluasi secara verbal tingkah laku yang diamati, dan menentukan mana yang dibuang dan mana yang akan dicoba dilakukan. Representasi imajinasi memungkinkan dapat dilakukannya latihan simbolik dalam pikiran, tanpa benar – benar melakukannya secara fisik.
·         Peniruan tingkah laku model (behavior production process)
Sesudah mengamati dengan penuh perhatian, dan memasukkannya ke dalam ingatan, orang lalu bertingkah laku. Mengubah dari gambaran pikiran menjadi tingkah laku menimbulkan kebutuhan evaluasi; “Bagaimana melakukannya?” “Apa yang harus dikerjakan?” “Apakah sudah benar?” Berkaitan dengan kebenaran, hasil belajar melalui observasi tidak dinilai berdasarkan kemiripan respons dengan tingkah laku yang ditiru, tetapi lebih pada tujuan belajar dan efikasi dari pembelajaran.
·         Motivasi dan penguatan (motivation and reinforcement process)
Belajar melalui pengamatan menjadi efektif kalau pembelajaran memiliki motivasi yang tinggi untuk dapat melakukan tingkah laku modelnya. Observasi mungkin memudahkan orang untuk menguasai tingkah laku tertentu, tetapi kalau motivasi untuk itu tidak ada, tidak bakal terjadi proses daripada tingkah laku yang dihukum. Imitasi tetap terjadi walaupun model tidak diganjar, sepanjang pengamat melihat model mendapat ciri-ciri positif yang menjadi tanda dari gaya hidup yang berhasil, sehingga diyakini model umumnya akan diganjar.

Peniruan (Modelling)
Salah satu proses belajar melalui observasi adalah peniruan atau modeling. Bandura mengungkapkan bahwa proses observasi ataupun perhatian sangat penting dalam pembelajaran (modeling) tingkah laku karena tingkah laku yang baru (kompetensi) tidak akan diperoleh tanpa adanya proses observasi maupun perhatian pembelajar.
Sebagai contoh pada eksperimen yang sangat terkenal adalah eksperimen Bobo Doll yang menunjukkan anak – anak meniru seperti perilaku agresif dari orang dewasa disekitarnya.
Albert Bandura seorang tokoh teori belajar social ini menyatakan bahwa proses pembelajaran dapat dilaksanakan dengan lebih berkesan dengan menggunakan pendekatan “permodelan “. Beliau menjelaskan lagi bahwa aspek perhatian pelajar terhadap apa yang disampaikan atau dilakukan oleh guru dan aspek peniruan oleh pelajar akan dapat memberikan kesan yang optimum kepada pemahaman pelajar.
Eksperimen Pemodelan Bandura :
Kelompok A = Disuruh memperhatikan sekumpulan orang dewasa memukul, menumbuk, menendang, dan menjerit kearah patung besar Bobo.
Hasil = Meniru apa yang dilakukan orng dewasa malahan lebih agresif
Kelompok B = Disuruh memperhatikan sekumpulan orang dewasa bermesra dengan patung besar Bobo
Hasil = Tidak menunjukkan tingkah laku yang agresif seperti kelompok A
Rumusan : Tingkah laku anak – anak dipelajari melalui peniruan / permodelan adalah hasil dari penguatan.
Hasil Keseluruhan Eksperimen :
Kelompok A menunjukkan tingkah laku yang lebih agresif dari orang dewasa. Kelompok B tidak menunjukkan tingkah laku yang agresif
Menurut bandura, sebagian besar tingkah laku manusia dipelajari melalui peniruan (imitation) maupun penyajian contoh perilaku (modelling). Dalam hal ini orang tua dan guru memainkan peranan penting sebagai seorang model atau tokoh bagi anak untuk menirukan perilaku tertentu. Ditambakan pada penelitian bahwa hasil observasi dan wawancara menunjukkan dalam kehidupan sehari-hari, anak memunculkan perilaku agresivitas yang tinggi seperti perilaku kasar, menentang, sulit diatur, mencela, membentak, melempar, memukul, menendang, meludah, ataupun mengumpat.

No comments:

Post a Comment