A. BIOGRAFI
Albert Bandura dilahirkan pada 4 Desember 1925, di Mundare, di dataran utara Alberta, Kanada. Ia anak laki-laki
satu-satunya dari keluarga dengan lima kakak perempuan. Ayahnya
berasal dari Polandia dan ibunya berasal dari Ukrania. Bandura
didukung oleh kakak-kakak perempuannya untuk menjadi mandiri dan tdak bergantung dengan oranglain. Ia juga belajar
untuk mengarahkan dirinya sendiri di sekolah kecil yang ada di kota tersebut,
yang hanya sedikit memiliki guru dan sumber daya.
Setelah lulus dari SMA, Bandura bekerja
diperusahaan penggalian jalan raya, di highway Alaska. Pengalaman ini
membawanya berkenalan dengan sesama pekerja, kebanyakan dari mereka melarikan
diri dari kreditor dan hutang. Selain itu, beberapa rekan kerjanya menunjukkan
berbagai bentuk psikopatologi dengan kadar yang berbeda-beda. Walaupun
observasinya terhadap sesama pekerja mulai menumbuhkan minatnya dalam psikologi
klinis, ia tidak memutuskan menjadi psikolog sampai ia memasuki University
of British Columbia di Vancouver.
Keputusan Bandura untuk
menjadi psikolog cukup tidak disengaja. Hal tersebut
terjadi sebagai hasil dari kejadian yang tidak direncanakan. Di universitas,
Bandura memutuskan untuk mengikuti suatu kelas psikologi yang kebetulan
diadakan pada periode waktu tersebut. Ia merasa kelas tersebut menarik dan
kemudian memutuskan untuk mengambil jurusan psikologi. Bandura kemudian
menyadari bahwa kejadian yang tidak disengaja (seperti berangkat ke kampus
dengan mahasiswa lain yang sejak pagi sudah melakukan kegiatan) mempunyai pengaruh
yang penting dalam kehidupan manusia.
|
Waktu di Iowa, dia
bertemu dengan seorang instruktur sekolah perawat. Mereka
kemudian menikah dan dikaruniai dua orang puteri. Setelah lulus,
dia melanjutkan pendidikannya pasca program doktor
di Wichita Guidance Center, Wichita, Kansas. Buku pertama hasil kerja
sama mereka berjudul Adolescent Aggression terbit tahun 1959. Buku-bukunya
paling berpengaruh adalah Social Learning Theory (1977), Social Foundation of
Tought and Action (1986), dan Self-Efficacy: The Exercise of Control (1997).
Bandura menjadi presiden
American Psychological Association (APA) tahun 1974, dan menerima APA Award
atas jasa-jasanya dalam Distinguished Scientific Contributions tahun 1980,
ketua Western Psychological Association (1980), dan ketua kehormatan Canadian
Psychological Association (1999). (Feist & Feist, 2016)
B.
TEORI DASAR
Bandura memfokuskan pada teori kognitif sosial yang akan
dijadikan dasar untuk mempelajari kepribadian manusia. Teori pembelajaran
sosial merupakan perluasan dari teori belajar perilaku yang tradisional (behavioristik).
Teori pembelajaran sosial ini dikembangkan oleh Albert Bandura sejak tahun 1986. Teori ini menerima sebagian besar dari
prinsip-prinsip teori-teori belajar perilaku, tetapi memberi lebih banyak
penekanan pada kesan dari isyarat-isyarat pada perilaku, dan pada proses-proses
mental internal. Dalam pandangan belajar sosial, manusia itu tidak didorong
oleh kekuatan-kekuatan dari dalam dan juga tidak dipukul oleh stimulus-stimulus
lingkungan.
Teori belajar sosial menekankan, bahwa lingkungan-lingkungan
yang dihadapkan pada seseorang secara kebetulan. Lingkungan-lingkungan itu kerap kali dipilih dan diubah
oleh orang itu melalui perilakunya sendiri. Menurut Bandura, bahwa sebagian
besar manusia belajar melalui pengamatan secara selektif dan mengingat tingkah
laku orang lain. Inti dari teori pembelajaran sosial adalah pemodelan
(modelling), dan permodelan ini merupakan salah satu langkah paling penting
dalam pembelajaran terpadu.
Menurut Bandura,
proses mengamati dan meniru perilaku dan sikap orang lain sebagai model
merupakan tindakan belajar. Tindakan belajar ini digambarkan pada dua asumsi
pemikiran yaitu : Pertama, Bandura berpendapat bahwa manusia dapat berpikir dan
dan mengatur tingkah lakunya sendiri. Kedua, Bandura menyatakan banyak aspek
fungsi kepribadian melibatkan interaksi orang itu dengan orang lain. (Nurodin,
2019:99)
Kepribadian berkembang dalam konteks sosial, interaksi
antara satu sama lainnya. Dengan demikian teori kepribadian yang tepat adalah
yang mempertimbangkan konteks sosial tersebut. Dalam hal lain, Bandura
menyetujui keyakinan dasar behaviorisme yang mempercayai bahwa kepribadian
dibentuk melalui belajar (Feist & Feist,2016).
C.
STRUKTUR
KEPRIBADIAN
1.
Sistem Self
Menurut Bandura, pengaruh yang
ditimbulkan oleh self sebagai salah satu determinan tingkah laku tidak dapat
dihilangkan tanpa membahayakan penjelasan & kekuatan peramalan. Self diakui
sebagai unsure struktur kepribadian (Nurodin, 2019:99). Disini bandura
memaksudkan bahwa self bukan untuk mengontrol tingkah laku, tetapi lebih
memberikan suatu pedoman mekanisme tentang pengaturan tingkah laku. Self
menjadi bagian dari sebuah sisten yang tidak berpengaruh secara otonom.
2.
Regulasi Diri
Regulasi merupakan sebuah proses
berpikir untuik tujuan memanipulasi lingkungan, sehingga kemungkinan
menghasilkan perubahan pada lingkungan yang disebabkan oleh manusia. Menurut
Bandura, akan terjadi strategi reaktif dan proaktif dalam regulasi diri.
Strategi reaktif dipakai untuk mencapai tujuan, namun ketika tujuan hampir
tercapai strategi proaktif menentukan tujuan baru yang lebih tinggi. (Nurodin,
2019:100)
Ada 3 tahap yang terjadi dalam proses regulasi diri
(Boeree, 2017: 242) antara lain:
-
Pengamatan Diri : proses melihat diri / perilaku kita
sendiri serta terus mengawasinya
-
Penilaian : proses membandingkan apa
yang kita lihat pada diri dan perilaku kita dengan suatu standar ukuran.
-
Respon Diri : jika seseorang telah berhasil
membandingkan antar perilaku yang terjadi selanjutnya mereka bisa memberi
imbalan atas respon diri pada dirinya sendiri.
3.
Efikasi Diri
Efikasi Diri dapat
diartikan sebagai persepsi seseorang mengenai kapasitas mereka untuk beraksi
pada situasi di masa depan yang akan ia hadapi kelak. Sebagian besar efikasi diri dihasilkan dari peengalaman terkait keberhasilan dan
kegagalan (Feist& Feist, 2010: 212). Pada teori ini, menunjukan
bahwa manusia dengan efikasi diri yang lebih tinggi cenderung memilih untuk
berupaya lebih giat mengerjakan tugas yang sulit, tetap tenang dan dapat
mengelola pemikiran dalam pola analitis.Efikasi diri adalah hal yang umumnya
dimiliki setiap orang yang berbeda dan pada situasi yang berbeda juga.
Hubungan
antara efikasi diri yang dirasakan dan pencapaian cukup tinggi. Harapan efikasi diri merupakan kepercayaan mengenai
apakah seseorang dapat melakukan perilaku tersebut untuk pertama kali.
Berdasarkan pemahaman teori ini, menunjukan bahwa secara umum harapan efikasi
diri lebih penting daripada harapan hasil sebagai penentu perilaku. Ketika
seseorang kurang menguasai efikasi diri pada dirinya untuk mencapai sesuatu,
hadiah dari pencapaian tujuan mungkin tidak relevan bagi mereka. (Lawrence, 2012: 231)
4. Efikasi Kolektif
Struktur kepribadian yang ke empat disebut dengan
Efiaksi Kolektif. Yang dimaksud dengan efikasi kolektif merupakan keyakinan
masyarakat bahwa usaha mereka dapat bersama – sama dapat menghasilkan perubahan
sosial. (Nurodin, 2019)
D. DINAMIKA PERKEMBANGAN
Menurut Bandura, motivasi mempunyai dua sumber, gambaran hasil pada masa
yang akan datang (yang dapat menimbulkan motivasi tingkah laku saat ini) dengan
harapan keberhasilan yang didasarkan pada pengalaman menetapkan dan mencapai
tujuan. Dengan kata lain, harapan mendapatkan renforcement pada masa yang akan
datang akan memotivasi individu untuk bertingkah laku tertentu. Selain itu, dengan menetapkan tujuan yang diinginkan dan
mengevaluasinya, maka seseorang akan termotivasi untuk bertindak pada tingkat tertentu.
Menurut Bandura, penguatan (reinforcement) dapat menjadi penyebab belajar.
Orang dapat belajar dengan penguat yang diwakilkan (vicarious reinforcement),
penguat yang ditunda (expectation reinforcement) atau bahkan tanpa penguat
(beyond reinforcement).(Nurodin,
2019:101)
Menurut Bandura motivasi mempunyai dua sumber,
yaitu:
1)
Gambaran hasil
pada masa yang akan datang atau yang
dapat menimbulkan motivasi tingkah laku pada saat ini
2)
Harapan
keberhasilan berdasarkan pada pengalaman.
Dengan kata lain,
harapan pada masa yang akan datang akan memotivasi seseorang untuk bertingkah
laku tertentu. Bandura setuju bahwa penguatan menjadi penyebab belajar. Namun
sesorang juga dapat belajar dengan tiga penguatan seperti yang akan dijelaskan
di bawah ini:
1.
Penguatan Vikarius (vicarious reinforcement), yaitu mengamati orang lain
yang mendapat penguatan, membuat seseorang puas dan berusaha belajar.
2.
Penguatan yang ditunda (expectation reinforcement), orang terus menerus
berbuat tanpa mendapatkan penguatan, karena yakin akan mendapatkan penguatan
yang sangat memuaskan pada masa yang akan datang.\
3. Tanpa
penguatan (beyond reinforcement), belajar tanpa ada penguatan sama sekali
E.
PERKEMBANGAN
KEPRIBADIAN
Belajar Melalui Observasi
Menurut Bandura, seseorang atau individu kebanyakan belajar tanpa adanya
reinforcement yang nyata. Pada penelitian Bandura, hasilnya mengatakan bahwa
individu melakukan proses belajar dengan cara melihat yang ia lihat dari
pandangannya dan individu dapat belajar tidak harus dengan melakukan proses
belajar seperti di sekolah. Dengan cara observasi disekeliling individu yang ia
amati dapat ia pahami dan membuat pelajaran karena melalui observasi orang
dapat melalui respon yang tidak terhingga tanpa batas. Selain itu, observasi
jauh lebih efisien. Albert Bandura yang memandang bahwa semua perilaku
merupakan hasil dari proses belajar yang berlangsung dalam situasi sosial
melalui perilaku meniru atau mencontoh.(Boeree,
2017: 238)
Faktor-faktor
Penting dalam Belajar Melalui Observasi
a.
Mengamati orang lain melakukan sesuatu tidak mesti
berakibat belajar, karena belajar melalui observasi memerlukan beberapa faktor
atau prakondisi. Menurut Bandura, ada empat proses yang penting agar belajar
melalui obsevasi dapat terjadi, yakni:
·
Perhatian (attention process)
Sebelum meniru
orang lain, perhatian harus dicurahkan ke orang itu. Perhatian ini dipengaruhi
oleh asosiasi pengamat dengan modelnya, sifat model yang atraktif, dan arti
penting tingkah laku yang diamati bagi si pengamat.
·
Representasi (representation process)
Tingkah laku yang
akan ditiru, harus disimbolisasikan dalam ingatan. Baik dalam bentuk verbal
maupun dalam bentuk gambaran/imajinasi. Representasi verbal memungkinkan orang
mengevaluasi secara verbal tingkah laku yang diamati, dan menentukan mana yang
dibuang dan mana yang akan dicoba dilakukan. Representasi imajinasi memungkinkan
dapat dilakukannya latihan simbolik dalam pikiran, tanpa benar – benar
melakukannya secara fisik.
·
Peniruan tingkah laku model (behavior production process)
Sesudah mengamati
dengan penuh perhatian, dan memasukkannya ke dalam ingatan, orang lalu
bertingkah laku. Mengubah dari gambaran pikiran menjadi tingkah laku
menimbulkan kebutuhan evaluasi; “Bagaimana melakukannya?” “Apa yang harus
dikerjakan?” “Apakah sudah benar?” Berkaitan dengan kebenaran, hasil belajar
melalui observasi tidak dinilai berdasarkan kemiripan respons dengan tingkah
laku yang ditiru, tetapi lebih pada tujuan belajar dan efikasi dari
pembelajaran.
·
Motivasi dan penguatan (motivation and reinforcement
process)
Belajar melalui
pengamatan menjadi efektif kalau pembelajaran memiliki motivasi yang tinggi
untuk dapat melakukan tingkah laku modelnya. Observasi mungkin memudahkan orang
untuk menguasai tingkah laku tertentu, tetapi kalau motivasi untuk itu tidak
ada, tidak bakal terjadi proses daripada tingkah laku yang dihukum. Imitasi
tetap terjadi walaupun model tidak diganjar, sepanjang pengamat melihat model
mendapat ciri-ciri positif yang menjadi tanda dari gaya hidup yang berhasil,
sehingga diyakini model umumnya akan diganjar.
Peniruan (Modelling)
Salah satu proses belajar melalui observasi adalah
peniruan atau modeling. Bandura mengungkapkan bahwa proses observasi ataupun
perhatian sangat penting dalam pembelajaran (modeling) tingkah laku karena
tingkah laku yang baru (kompetensi) tidak akan diperoleh tanpa adanya proses
observasi maupun perhatian pembelajar.
Sebagai contoh pada eksperimen yang sangat terkenal adalah eksperimen
Bobo Doll yang menunjukkan anak – anak meniru seperti perilaku agresif dari
orang dewasa disekitarnya.
Albert Bandura seorang tokoh teori belajar social
ini menyatakan bahwa proses pembelajaran dapat dilaksanakan dengan lebih
berkesan dengan menggunakan pendekatan “permodelan “. Beliau menjelaskan lagi
bahwa aspek perhatian pelajar terhadap apa yang disampaikan atau dilakukan oleh
guru dan aspek peniruan oleh pelajar akan dapat memberikan kesan yang optimum
kepada pemahaman pelajar.
Eksperimen
Pemodelan Bandura :
Kelompok
A = Disuruh memperhatikan sekumpulan orang dewasa memukul, menumbuk, menendang,
dan menjerit kearah patung besar Bobo.
Hasil
= Meniru apa yang dilakukan orng dewasa malahan lebih agresif
Kelompok
B = Disuruh memperhatikan sekumpulan orang dewasa bermesra dengan patung besar
Bobo
Hasil
= Tidak menunjukkan tingkah laku yang agresif seperti kelompok A
Rumusan
: Tingkah laku anak – anak dipelajari melalui peniruan / permodelan adalah
hasil dari penguatan.
Hasil
Keseluruhan Eksperimen :
Kelompok
A menunjukkan tingkah laku yang lebih agresif dari orang dewasa. Kelompok B
tidak menunjukkan tingkah laku yang agresif
Menurut bandura, sebagian besar
tingkah laku manusia dipelajari melalui peniruan (imitation) maupun penyajian
contoh perilaku (modelling). Dalam hal ini orang tua dan guru memainkan peranan
penting sebagai seorang model atau tokoh bagi anak untuk menirukan perilaku
tertentu. Ditambakan pada penelitian bahwa
hasil observasi dan wawancara menunjukkan dalam kehidupan sehari-hari, anak
memunculkan perilaku agresivitas yang tinggi seperti perilaku kasar, menentang,
sulit diatur, mencela, membentak, melempar, memukul, menendang, meludah,
ataupun mengumpat.
No comments:
Post a Comment