Wednesday, June 10, 2020

FILSAFAT UMUM PSIKOLOGI : Etika Dalam Ajaran Taoisme Filsafat China


FILSAFAT CHINA TAOISME

I.                  PENDAHULUAN

Kepercayaan di dunia ada, sejalan dengan keberadaan manusia sejak manusia diciptakan. Seperti kita ketahui selama ini, bahwa manusia pertama Adam juga mempunyai kepercayaan bahwa ia diciptakan dari suatu yang memiliki kekuatan lebih.
Adapun tentang agama, suatu istilah yang digunakan untuk menunjukkan makna kenyamanan. Dengan maksud bahwa agama memiliki arti meniadakan kekacauan, huru-hara dll yang data memicu terjadinya konflik. Semua agama didunia tidak terkecuali mengajarkan pada arah yang positif, akan tetai mereka mempunyai corak dan karakter masing-masing. Dalam konteks pembahasan kali ini, makalah ini menjelaskan satu ajaran agama yang ada di dunia, yaitu Agama Tao.
Agama Tao yang kita tahu, merupakan agama-agama orang Cina yang lebih memusatkan ajarannya untuk mencintai alam semesta. Sesungguhnya tidak satupun kebudayaan di dunia ini yang mempunyai warna tunggal. Di Cina, nada-nada klasik dari agama Khong Hu Cu telah diimbangi bukan saja oleh berbagai ragam spiritual dari agama Budha melainkan juga oleh berbagai corak romantic dari Taoisme. Pada makalah ini kita akan menyoroti mengenai Etika yang diajarkan pada Ajaran Taoisme.

II.               MENGENAL TAOISME

Taoisme (Tionghoa: 道教 atau 道家 ) juga dikenal dengan Daoisme, diprakarsai oleh Laozi (老子:Lǎozǐ) sejak akhir Zaman Chunqiu yang hidup pada 604-517 sM atau abad ke-6 sebelum Masehi. Taoisme merupakan ajaran Laozi yang berdasarkan Daode Jing (道德經,pinyin:Dàodé Jīng). Awalnya Daode jing disebut Laozi Wuqianyan (老子五千言) atau Tulisan Laozi Lima Ribu Kata. Selanjutnya Dia meninggalkan ibu kota dan tidak pernah terdengar lagi kabar beritanya. Belakangan, semasa Dinasti Han (202 – 221 SM) kitab itu mulai disebut Daodejing, karena membahas mengenai Dao ( Jalan ) dan De (德, atau Kebajikan) yang diajarkan Laozi[1].Kitab singkat yang berjudul Daodejing itu, untuk selanjutnya menjadi kitab pegangan utama bagi para penganut Daoisme.Pengikut Laozi yang terkenal adalah Zhuangzi (莊子) yang merupakan tokoh penulis kitab yang berjudul Zhuangzi. Selain itu ada Lie Zi 列子, Huainan zi 淮南子 juga termasuk filsuf Taoisme. Lie Zi, Huainan Zi juga membuat kitab yang berjudul Lie Zi dan Huainan Zi.

Taoisme adalah sebuah aliran filsafat yang berasal dari Cina. Taoisme sudah berumur ribuan tahun, dan akar-akar pemikirannya telah ada sebelum masa Konfusiusme. Bentuk Taoisme yang lebih sistematis dan berupa aliran filsafat muncul kira-kira 3 abad SM. Selain aliran filsafat, Taoisme juga muncul dalam bentuk agama rakyat, yang mulai berkembang 2 abad setelah perkembangan filsafat Taoisme.
·         Ajaran Taoisme
o   Dao

III.           ETIKA DALAM AJARAN TAOISME

         Dalam menjalani kehidupan yang ada, manusia mengarah pada kehidupan yang alamiah tanpa adanya proses ikut campur. Kehidupan yang alami inilah yang menjadi suatu kebajikan dasar yang memicu munculnya tiga buah kebajikan lain yang menuntun manusia dalam kehidupannya, yaitu lemah lembut, rendah hati, dan menyangkal diri.Kelemah-lembutan merupakan teman dari kehidupan, sebaliknya, kekerasan dan kekakuan adalah teman dari kematian. Rendah hati adalah sikap mampu membatasi diri dengan berbuat seperlunya saja.Di dalam kitab Daode Ching dikatakan, “Tidak ada kutuk yang lebih besar daripada merasa kurang puas. Tidak ada dosa yang lebih besar daripada selalu ingin memiliki.Oleh karena itu, manusia yang bijaksana dan menginginkan hidup tenang dan tenteram akan mempercayakan seluruh hidupnya kepada Dao atau alam semesta.
Di dalam tulisan Lao Tzu, Sebagian besar diantaranya diringkas ke dalam perbedaan antara pasivitas dan aktivitas, antara kelembutan dan kekerasan, dan antara kompetisi dan kesabaran. Ia kemudian berpendapat, bahwa pasitivitas itu lebih menguntungkan daripada aktivitas. Kelembutan lebih berguna daripada kekerasan, dan kesabaran lebih berguna daripada kompetisi. Karena orang mudah sekali jatuh ke dalam hal-hal yang berlawanan dari yang diinginkannya, maka adalah lebih baik bagi setiap orang, jika ia mulai dengan hal-hal yang tidak diinginkannya, lalu bergerak ke hal-hal yang diinginkannya. “Untuk memperoleh sesuatu”, demikian Lao Tzu, “adalah perlu bagi orang untuk pertama-tama memberi.” Jadi, untuk mencapai sesuatu, orang harus pertama-tama memulai dengan yang berlawanan dari yang ingin dia capai. Dengan demikian, esensi dari pendekatan Lao Tzu adalah “dengan mulai mengejar tujuan dari titik yang secara diametral bertentangan dengan tujuan itu.”
Dalam Daoisme dikenal tiga kebajikan utama (The Three Jewels) yang masing-masing adalah kasih sayang (compassion), sikap tidak berlebihan (moderation), dan kesahajaan (humality).Otak hanya mampu menyimpan hal-hal yang dapat membuat manusia bertahan terhadap alam, dan mungkin diberikan potensi tambahan untuk dapat menikmati hidup yang bahagia dan mengejar mimpi dan aspirasi kita. Manusia tidak perlu mengontrol alam. Sama seperti dirimu tidak perlu dikontrol oleh orang lain, hanya dirimu sendiri yang mengontrolnya. Demikian juga alam tidak perlu diatur olehmanusia, maka hendaknya manusia tidak berkuasa mengubah-ubah kondisi alam. Alam memiliki aturannya sendiri.
Sikap tidak berlebihan (moderation) di sini sangat terkenal dengan Wu Wei. Arti harafiah dari Wu Wei itu sendiri adalah ‘tanpa tindakan’. Daosime sangat menjunjung tinggi hal ini. Saat ada hukum maka akan banyak kejahatan atau tindak kriminalitas. Jadi lebih baik diam dan semuanya akan berubah.Lao Tzu berkeyakinan bahwa Wu Wei dapat menciptakan keharmonisan masyarakat. Di dalam pandangan filsafat Taoisme, kekuasaan adalah sumber dari segala ketidakberuntungan dan kekacauan.



IV.           KESIMPULAN
Dari kesimpulan di atas, kita bisa menarik poin bahwa inti dari etika Taoisme yang ditawarkan oleh Lao Tzu adalah wu-wei, yang dalam bahasa Cina secara literer berarti xiaogan (tidak adanya tindakan). “Wu-wei”, dengan kata lain, wu-wei berarti pembatalan dan sekaligus pembatasan tingkah laku manusia, terutama tingkah laku di dalam dunia sosial. Ada beberapa tingkatan wu-wei di dalam Taoisme. Etika wu-wei adalah etika non-tindakan.
Lao Tzu sendiri sangat yakin, bahwa wu-wei akan dapat menciptakan kehidupan bermasyarakat yang harmonis dan damai. Ini adalah kebenaran yang nyata, bahwa kelemahlembutan dapat melampaui kekerasan. Walaupun begitu nyata, tetapi orang begitu cepat lupa dengan hal ini, sekaligus begitu sulit untuk mempertahankan kesadaran semacam ini.




V.               REFERENSI
K. Budiono. 2010. Sejarah Filsafat Tiongkok: Sebuah Pengantar Komprehensif. Alasutra: Jogjakarta.
https://id.m.wikipedia.org/wiki/Taoisme  diakses pada 30/12/2019

No comments:

Post a Comment