Friday, June 12, 2020

Psikologi Sosial : Analisis kasus berdasar Teori Psikologi Massa


ANALISIS KASUS AKSI MASSA TERHADAP KEMATIAN
GEORGE FLOYD (BLACK LIVES MATTERS)
di AMERIKA


Disusun Guna Memenuhi Tugas Matakuliah
Pengantar Psikologi Sosial


HASIL ANALISIS KASUS

            Sedikit ringkasan mengenai kasus yang dianalisis kali ini adalah mengenai Isu Rasisme yang terjadi di Amerika yang dialami oleh seorang Pria 46 thn yang berkulit hitam bernama George Floyd. Kejadian diawali ketika Floyd diduga menggunakan uang palsu senilai 20 dollar ketika membeli sesuatu di sebuah toko. Pemilik toko kemudian menelpon polisi untuk melaporkan kejadian tersebut. Datanglah polisi berkulit putih bernama Derek Chauvin dan anggota tim lainnya. Tindakan penangkapan dengan kekerasanpun dilakukan oleh oknum polisi tersebut hingga mengakibatkan Floyd mengalami gagal nafas karena posisi yang tertekan oleh Chauvin dan temannya. Kematiannya pun menjadi sorotan di Amerika beberapa saat yang lalu, pemerintah amerika memberikan sanksi tegas pada pelaku dengan hukuman penjara dengan pasal pembunuhan tingkat dua.
Kejadian ini memicu bergejolaknya respon masyarakat dari berbagai belahan dunia di Amerika Serikat, Eropa hingga Australia. Masyarakat melakukan aksi demonstrasi dengan mengangkat fokus terhadap Black Lives Matters yang pernah digunakan pada tahun 2013 pada kasus travyon martin. Media Online Netflix pun ikut berperan serta dengan menayangkan film – film sebagai bentuk dukungan terhadap aksi Black Live Matters tersebut.Barrack Obama melalui Pidato dear class 2020 yang diikuti oleh banyak Selebriti ternama juga menyampaikan dukungan terhadap kasus ini.

Bagaimana kita melihat kejadian ini dari sudut Psikologi Sosial menggunakan teori – teori Tingkah Laku Massa ?

Definisi Massa sendiri adalah kumpulan banyak orang yang pada tempat juga waktu yang sama dan memiliki tujuan yang sama pula. Pada kasus diatas Massa yang berkumpul sesuai dengan definisi dari Massa itu sendiri, dimana masyarakat berkumpul membentuk gerombolan besar di berbagai macam tempat untuk menyamapaikan dukungan mereka terhadap isu rasisme yang terjadi. Mereka menyatukan diri pada gabungan massa untuk menyampaikan aspirasi mereka mengenai hal yang terjadi, tidak hanya itu mereka bahkan menggalang dana untuk kasus2 yang dialami oleh orang berkulit hitam melalui situs web black lives matters.
Massa selama ini cenderung dianggap negative, padahal massa juga dapat mendorong melakukan  perbuaan susila dan terdapat sifat – sifat positif seperti saling membantu dan rela berkorban seperti yang dilakukan pada aksi demo atas kematian Floyd tersebut. Kemajuan pemikiran massa berpengaruh terhadap persepsi mereka tentang apa yang sedang terjadi dan menggerakan mereka untuk bergerak membantu sesame umat manusia lewat aksi – aksi di khalayak umum.

Hal – Hal Yang Mendorong Massa Berkumpul untuk Kasus tersebut, antara lain :
1.      Merasa hal ini perlu dilakukan untuk mendapatkan hak seseorang yang sesuai dengan pandangan mereka dan untuk menentang apapun yang mereka tidak sukai. Seperti pada kasus Floyd Massa memiliki pemikiran yang sama mengenai HAM yang sama untuk semua umat Manusia apapun warna kulit mereka. Mereka juga sangat menentang tindakan yang dilakukan oleh polisi berkulit putih yang sangat tidak wajar dilakukan hingga merenggut nyawa seseorang.
2.      Masyarakat pada umumnya mudah tersugesti apabila menyangkut perilaku negative terhadap kelompoknya. Hal ini ditunjukan banyaknya masyarakat yang sama – sama keturunan kulit hitam ikut turun dalam aksi tersebut.
3.      Perasaan emosi marah dapat menyebar dan menular dengan cepat ditengah kerumunan kelompok. Mulai dari satu kelompok yang mengekspresikan kemudian beberapa mengikuti bahkan dengan kelompok yang lebih besar. Pada kasus ini awalnya aksi hanya dilakukan di Amerika, tetapi ketika dunia mulai menyoroti hal ini massa diberbagai belahan dunia ikut serta dalam aksi tersebut.

Jenis MASSA dilihat dari berbagai sisi yang terlibat pada kasus ini :
·         Dilihat dari bentuknya
-          Massa yang tidak terorganisir secara formal : dilihat dari proses dibentuknya kelompok massa ini terbentuk karena kepentingan dan dorongan yang sama yang sewaktu – waktu dapat bubar dengan sendirinya saat yang ingin mereka sampaikan sudah terlaksana yaitu keadilan terhadap perbedaan ras dan terhadap kasus yang menimpa Floyd.


·         Dilihat dari Aktivitasnya
-          Massa yang Aktif (Agresif dan Ekspresif) : Demonstrasi yang dilakukan massa memicu kerusuhan walaupun awalnya damai, semakin panas aksi tersebut mengakibatkan penjarahan sejumlah toko, dan pengrusakan fasilitas umum disertai unjuk rasa dengan dipenuhi emosi kemarahan. Gelombang protes yang terjadi sangat diwarnai oleh tindakan agresif massa diberbagai tempat.

·         Dilihat dari jumlah orang
-          Massa Besar : jumlah anggota pada aksi ini anggotanya sangat banyak hingga ratusan bahkan ribuan orang, bahkan diberbagai belahan dunia dilakukan aksi solidaritas massa untuk mendukung keadilan bagi kematian Floyd.

·         Dilihat dari waktu terbentuknya
-          Massa yang terbentuknya relative baru : mereka kebanyakan berkumpul pada aksi ini sebagai bentuk dukungan akan keadilan bagi orang berkulit hitam terutama pada kasus kematian Floyd, Namun jika ditinjau dari demonstran yang berasal dari asosiasi (Black Live Matters) mereka terbentuk dengan rasa solidaritas yang cukup lama yaitu sejak kasus kasus yang berhubungan dengan kulit hitam mulai banyak terjadi sejak tahun 2013.

·         Dilihat dari tingkatan keyakinan anggota terhadap kelompoknya
-          Keyakinan anggota yang tinggi : hal ini bisa dilihat dari arah dan tujuan gerakan massa dimana jelas bertujuan untuk menuntut keadilan terhadap isu rasisme yang terjadi di amerika. Berdasar perasaan emosi dan solidaritas inilah  anggota mereka tergerak untuk bergabung pada massa ini karena yakin arah demonstrasi ini demi memperjuangkan sesuatu yang seharusnya didapat.

·         Dilihat dari penyebaran Massa nya
-          Massa yang tersebar : Pada aksi ini massa tersebar diberbagai Negara dengan pimpinannya masing – masing pada kelompoknya yang terpisah dengan massa di Negara lain. Masing – masing Negara berinisiatif dengan cara nya masing masing untuk menyampaikan aksinya. Ada yang mengusung mengenai kematian Floyd yang baru terjadi. Ada pula yang mengangkat kasus yang terjadi di 2016 tetapi tetap dengan arah dan tujuan yang sama.

Faktor Yang Menyebabkan Massa Ini Terbentuk :
·           Faktor Kelompok : massa yang terbentuk pada aksi ini pada dasarnya didasarkan oleh adanya masalah ketidak adilan terhadap mayoritas minoritas terutama mengenai perbedaan warna kulit yang berulang kali terjadi dan menimpa mereka keturunan kulit hitam yang tinggal di Negara dengan mayoritas berkulit putih.

Tahapan – Tahapan Terjadinya Kerusuhan Massa Pada Aksi Demonstrasi Kasus Kematian George Floyd:
·         Kondisi Tenang : Seperti dijelaskan pada liputan berita tersebut awalnya kondisi massa yang berkumpul bersifat kondusif dan teratur tanpa keributan. Mungkin juga masih dalam bentuk massa yang berkumpul di media social dan focus terhadap korban ataupun kasus.

·         Kondisi Berkerumun : dalam kondisi ini massa berkumpul disuatu tempat pada pusat kota ataupun bahkan tempat kejadian dan juga jalan jalan umum dengan tujuan semakin tersorot oleh pihak yang berwenang atau pejabat tinggi yang akan menghasilkan dampak untuk aksi yang mereka lakukan.

·         Kondisi agresif : semakin larut massa yang berkerumun cenderung bertindak agresif mungkin bentuk kekecewaan atau emosi yang sudah tak terkendali mereka mulai melakukan tindakan agresi dan pengrusakan. 

·         Kondisi Huru – Hara : kegiatan anarkis pun tidak terbendung oleh petugas ketika kondisi agresif sudah tidak dapat diatasi pula, hingga akhirnya pemerintah menetapkan penjagaan malam di tempat tempat tertentu diperpanjang waktunya.




Upaya Mengatasi Aksi Massa Pada Kasus Demonstrasi Kematian George Floyd:
Tindakan yang tepat untuk mengatasi massa seperti pada kasus tersebut ,massa yang mulai agresif dan anarkis ini sebaiknya mulai dilaksanakan tindakan yang tegas dan keras. Korban nyawa hendaknya dihindarkan sebab korban nyawa dapat memicu aksi kemarahan yang lebih hebat lagi. Terlebih kasus ini mengenai kematian karena tindak rasisme, sepertinya masyarakat akan lebih sensitive terhadap perlakuan petugas keamanan terhadap anggota kelompok yang mengikuti aksi demonstarsi tersebut. Jika salah bertindak, tidak dipungkiri bisa saja terjadi aksi yang lebih besar lagi. Maka petugas harus mempertimbangkan konsekuensi yang mungkin terjadi atau akan timbul. Tindakan dengan usaha membubarkan demonstrasi dengan teknik non kekerasan juga bisa diterapkan dengan menggunakan pengeras suara untuk menenangkan aksi. Aksi mungkin juga akan mereda jika massa mendapatkan hasil / jawaban dari apa yang dikeluhkan tersebut.   




DAFTAR PUSTAKA

Gerungan.2004. Psikologi sosial. Bandung : PT Refika Aditama
Hafid, Dedi Herdiana. 2014. Psikologi Massa. Yogyakarta : UNY.
Teori Psikologi dan Aksi Demonstrasi. 2019. https://m.cnnindonesia.com/gaya-hidup/20190522095859-284-397249/teori-psikologi-di-balik-aksi-demonstrasi (diakses pada 11/06/2020)
Teori Psikologi Massa. 2018.  https://www.google.com/amp/s/dosenpsikologi.com/teori-psikologi-massa/amp (diakses pada 11/06/2020)
Wahyono, Agus. 2016. Psikologi Massa. Semarang : Pusat Pengembangan Pendidikan Anak Usia Dini Dan Pendidikan Masyarakat.

Klik link dibawah ini untuk sumber :

Wednesday, June 10, 2020

TOKOH PSIKOLOGI : ALBERT BANDURA Biografi, Struktur Kepribadian, Dinamika Perkembangan, dan Perkembangan Kepribadian Albert Bandura


A.  BIOGRAFI
Albert Bandura dilahirkan pada 4 Desember 1925, di Mundare, di dataran utara Alberta, Kanada. Ia anak laki-laki satu-satunya dari keluarga dengan lima kakak perempuan. Ayahnya berasal dari Polandia dan ibunya berasal dari Ukrania. Bandura didukung oleh kakak-kakak perempuannya untuk menjadi mandiri dan tdak bergantung dengan oranglain. Ia juga belajar untuk mengarahkan dirinya sendiri di sekolah kecil yang ada di kota tersebut, yang hanya sedikit memiliki guru dan sumber daya.
Setelah lulus dari SMA, Bandura bekerja diperusahaan penggalian jalan raya, di highway Alaska. Pengalaman ini membawanya berkenalan dengan sesama pekerja, kebanyakan dari mereka melarikan diri dari kreditor dan hutang. Selain itu, beberapa rekan kerjanya menunjukkan berbagai bentuk psikopatologi dengan kadar yang berbeda-beda. Walaupun observasinya terhadap sesama pekerja mulai menumbuhkan minatnya dalam psikologi klinis, ia tidak memutuskan menjadi psikolog sampai ia memasuki University of  British Columbia di Vancouver.
Keputusan Bandura untuk menjadi psikolog cukup tidak disengaja. Hal tersebut terjadi sebagai hasil dari kejadian yang tidak direncanakan. Di universitas, Bandura memutuskan untuk mengikuti suatu kelas psikologi yang kebetulan diadakan pada periode waktu tersebut. Ia merasa kelas tersebut menarik dan kemudian memutuskan untuk mengambil jurusan psikologi. Bandura kemudian menyadari bahwa kejadian yang tidak disengaja (seperti berangkat ke kampus dengan mahasiswa lain yang sejak pagi sudah melakukan kegiatan) mempunyai pengaruh yang penting dalam kehidupan manusia.

 
Bandura menerima gelar sarjana muda dalam waktu tiga tahun dibidang psikologi dari University of British Columbia tahun 1949. Kemudian dia masuk University of Iowa, tempat dimana dia meraih gelar Ph.D tahun 1952. Baru setelah itu dia menjadi sangat berpengaruh dalam tradisi behavioris dan teori pembelajaran.
Waktu di Iowa, dia bertemu dengan seorang instruktur sekolah perawat. Mereka kemudian menikah dan dikaruniai dua orang puteri. Setelah lulus, dia melanjutkan pendidikannya pasca program doktor di Wichita Guidance Center, Wichita, Kansas.  Buku pertama hasil kerja sama mereka berjudul Adolescent Aggression terbit tahun 1959. Buku-bukunya paling berpengaruh adalah Social Learning Theory (1977), Social Foundation of Tought and Action (1986), dan Self-Efficacy: The Exercise of Control (1997).
Bandura menjadi presiden American Psychological Association (APA) tahun 1974, dan menerima APA Award atas jasa-jasanya dalam Distinguished Scientific Contributions tahun 1980, ketua Western Psychological Association (1980), dan ketua kehormatan Canadian Psychological Association (1999). (Feist & Feist, 2016)

B.       TEORI DASAR

Bandura memfokuskan pada teori kognitif sosial yang akan dijadikan dasar untuk mempelajari kepribadian manusia. Teori pembelajaran sosial merupakan perluasan dari teori belajar perilaku yang tradisional (behavioristik). Teori pembelajaran sosial ini dikembangkan oleh Albert Bandura sejak tahun 1986. Teori ini menerima sebagian besar dari prinsip-prinsip teori-teori belajar perilaku, tetapi memberi lebih banyak penekanan pada kesan dari isyarat-isyarat pada perilaku, dan pada proses-proses mental internal. Dalam pandangan belajar sosial, manusia itu tidak didorong oleh kekuatan-kekuatan dari dalam dan juga tidak dipukul oleh stimulus-stimulus lingkungan.
Teori belajar sosial menekankan, bahwa lingkungan-lingkungan yang dihadapkan pada seseorang secara kebetulan. Lingkungan-lingkungan itu kerap kali dipilih dan diubah oleh orang itu melalui perilakunya sendiri. Menurut Bandura, bahwa sebagian besar manusia belajar melalui pengamatan secara selektif dan mengingat tingkah laku orang lain. Inti dari teori pembelajaran sosial adalah pemodelan (modelling), dan permodelan ini merupakan salah satu langkah paling penting dalam pembelajaran terpadu.
Menurut Bandura, proses mengamati dan meniru perilaku dan sikap orang lain sebagai model merupakan tindakan belajar. Tindakan belajar ini digambarkan pada dua asumsi pemikiran yaitu : Pertama, Bandura berpendapat bahwa manusia dapat berpikir dan dan mengatur tingkah lakunya sendiri. Kedua, Bandura menyatakan banyak aspek fungsi kepribadian melibatkan interaksi orang itu dengan orang lain. (Nurodin, 2019:99)
Kepribadian berkembang dalam konteks sosial, interaksi antara satu sama lainnya. Dengan demikian teori kepribadian yang tepat adalah yang mempertimbangkan konteks sosial tersebut. Dalam hal lain, Bandura menyetujui keyakinan dasar behaviorisme yang mempercayai bahwa kepribadian dibentuk melalui belajar (Feist & Feist,2016).

C.    STRUKTUR KEPRIBADIAN

1.        Sistem Self
Menurut Bandura, pengaruh yang ditimbulkan oleh self sebagai salah satu determinan tingkah laku tidak dapat dihilangkan tanpa membahayakan penjelasan & kekuatan peramalan. Self diakui sebagai unsure struktur kepribadian (Nurodin, 2019:99). Disini bandura memaksudkan bahwa self bukan untuk mengontrol tingkah laku, tetapi lebih memberikan suatu pedoman mekanisme tentang pengaturan tingkah laku. Self menjadi bagian dari sebuah sisten yang tidak berpengaruh secara otonom.
2.      Regulasi Diri
Regulasi merupakan sebuah proses berpikir untuik tujuan memanipulasi lingkungan, sehingga kemungkinan menghasilkan perubahan pada lingkungan yang disebabkan oleh manusia. Menurut Bandura, akan terjadi strategi reaktif dan proaktif dalam regulasi diri. Strategi reaktif dipakai untuk mencapai tujuan, namun ketika tujuan hampir tercapai strategi proaktif menentukan tujuan baru yang lebih tinggi. (Nurodin, 2019:100)
Ada 3 tahap yang terjadi dalam proses regulasi diri (Boeree, 2017: 242) antara lain:
-       Pengamatan Diri          : proses melihat diri / perilaku kita sendiri serta terus mengawasinya
-       Penilaian                      : proses membandingkan apa yang kita lihat pada diri dan perilaku kita dengan suatu standar ukuran.
-       Respon Diri                 : jika seseorang telah berhasil membandingkan antar perilaku yang terjadi selanjutnya mereka bisa memberi imbalan atas respon diri pada dirinya sendiri.

3.      Efikasi Diri
Efikasi Diri dapat diartikan sebagai persepsi seseorang mengenai kapasitas mereka untuk beraksi pada situasi di masa depan yang akan ia hadapi kelak. Sebagian besar efikasi diri dihasilkan dari peengalaman terkait keberhasilan dan kegagalan (Feist& Feist, 2010: 212). Pada teori ini, menunjukan bahwa manusia dengan efikasi diri yang lebih tinggi cenderung memilih untuk berupaya lebih giat mengerjakan tugas yang sulit, tetap tenang dan dapat mengelola pemikiran dalam pola analitis.Efikasi diri adalah hal yang umumnya dimiliki setiap orang yang berbeda dan pada situasi yang berbeda juga.
Hubungan antara efikasi diri yang dirasakan dan pencapaian cukup tinggi. Harapan efikasi diri merupakan kepercayaan mengenai apakah seseorang dapat melakukan perilaku tersebut untuk pertama kali. Berdasarkan pemahaman teori ini, menunjukan bahwa secara umum harapan efikasi diri lebih penting daripada harapan hasil sebagai penentu perilaku. Ketika seseorang kurang menguasai efikasi diri pada dirinya untuk mencapai sesuatu, hadiah dari pencapaian tujuan mungkin tidak relevan bagi mereka. (Lawrence, 2012: 231)

4.      Efikasi Kolektif
Struktur kepribadian yang ke empat disebut dengan Efiaksi Kolektif. Yang dimaksud dengan efikasi kolektif merupakan keyakinan masyarakat bahwa usaha mereka dapat bersama – sama dapat menghasilkan  perubahan  sosial. (Nurodin, 2019)

D.  DINAMIKA PERKEMBANGAN

Menurut Bandura, motivasi mempunyai dua sumber, gambaran hasil pada masa yang akan datang (yang dapat menimbulkan motivasi tingkah laku saat ini) dengan harapan keberhasilan yang didasarkan pada pengalaman menetapkan dan mencapai tujuan. Dengan kata lain, harapan mendapatkan renforcement pada masa yang akan datang akan memotivasi individu untuk bertingkah laku tertentu. Selain itu,  dengan menetapkan tujuan yang diinginkan dan mengevaluasinya, maka seseorang akan termotivasi untuk bertindak pada tingkat tertentu. Menurut Bandura, penguatan (reinforcement) dapat menjadi penyebab belajar. Orang dapat belajar dengan penguat yang diwakilkan (vicarious reinforcement), penguat yang ditunda (expectation reinforcement) atau bahkan tanpa penguat (beyond reinforcement).(Nurodin, 2019:101)
Menurut Bandura motivasi mempunyai dua sumber, yaitu:
1)   Gambaran hasil pada masa yang akan datang  atau yang dapat menimbulkan motivasi tingkah laku pada saat ini
2)   Harapan keberhasilan berdasarkan pada pengalaman.
           
Dengan kata lain, harapan pada masa yang akan datang akan memotivasi seseorang untuk bertingkah laku tertentu. Bandura setuju bahwa penguatan menjadi penyebab belajar. Namun sesorang juga dapat belajar dengan tiga penguatan seperti yang akan dijelaskan di bawah ini:
1.      Penguatan Vikarius (vicarious reinforcement), yaitu mengamati orang lain yang mendapat penguatan, membuat seseorang puas dan berusaha belajar.
2.   Penguatan yang ditunda (expectation reinforcement), orang terus menerus berbuat tanpa mendapatkan penguatan, karena yakin akan mendapatkan penguatan yang sangat memuaskan pada masa yang akan datang.\
3.      Tanpa penguatan (beyond reinforcement), belajar tanpa ada penguatan sama sekali

E.       PERKEMBANGAN KEPRIBADIAN
Belajar Melalui Observasi
Menurut Bandura, seseorang atau individu kebanyakan belajar tanpa adanya reinforcement yang nyata. Pada penelitian Bandura, hasilnya mengatakan bahwa individu melakukan proses belajar dengan cara melihat yang ia lihat dari pandangannya dan individu dapat belajar tidak harus dengan melakukan proses belajar seperti di sekolah. Dengan cara observasi disekeliling individu yang ia amati dapat ia pahami dan membuat pelajaran karena melalui observasi orang dapat melalui respon yang tidak terhingga tanpa batas. Selain itu, observasi jauh lebih efisien. Albert Bandura yang memandang bahwa semua perilaku merupakan hasil dari proses belajar yang berlangsung dalam situasi sosial melalui perilaku meniru atau mencontoh.(Boeree, 2017: 238)
Faktor-faktor Penting dalam Belajar Melalui Observasi
a.    Mengamati orang lain melakukan sesuatu tidak mesti berakibat belajar, karena belajar melalui observasi memerlukan beberapa faktor atau prakondisi. Menurut Bandura, ada empat proses yang penting agar belajar melalui obsevasi dapat terjadi, yakni:
·         Perhatian (attention process)
Sebelum meniru orang lain, perhatian harus dicurahkan ke orang itu. Perhatian ini dipengaruhi oleh asosiasi pengamat dengan modelnya, sifat model yang atraktif, dan arti penting tingkah laku yang diamati bagi si pengamat.


·         Representasi (representation process)
Tingkah laku yang akan ditiru, harus disimbolisasikan dalam ingatan. Baik dalam bentuk verbal maupun dalam bentuk gambaran/imajinasi. Representasi verbal memungkinkan orang mengevaluasi secara verbal tingkah laku yang diamati, dan menentukan mana yang dibuang dan mana yang akan dicoba dilakukan. Representasi imajinasi memungkinkan dapat dilakukannya latihan simbolik dalam pikiran, tanpa benar – benar melakukannya secara fisik.
·         Peniruan tingkah laku model (behavior production process)
Sesudah mengamati dengan penuh perhatian, dan memasukkannya ke dalam ingatan, orang lalu bertingkah laku. Mengubah dari gambaran pikiran menjadi tingkah laku menimbulkan kebutuhan evaluasi; “Bagaimana melakukannya?” “Apa yang harus dikerjakan?” “Apakah sudah benar?” Berkaitan dengan kebenaran, hasil belajar melalui observasi tidak dinilai berdasarkan kemiripan respons dengan tingkah laku yang ditiru, tetapi lebih pada tujuan belajar dan efikasi dari pembelajaran.
·         Motivasi dan penguatan (motivation and reinforcement process)
Belajar melalui pengamatan menjadi efektif kalau pembelajaran memiliki motivasi yang tinggi untuk dapat melakukan tingkah laku modelnya. Observasi mungkin memudahkan orang untuk menguasai tingkah laku tertentu, tetapi kalau motivasi untuk itu tidak ada, tidak bakal terjadi proses daripada tingkah laku yang dihukum. Imitasi tetap terjadi walaupun model tidak diganjar, sepanjang pengamat melihat model mendapat ciri-ciri positif yang menjadi tanda dari gaya hidup yang berhasil, sehingga diyakini model umumnya akan diganjar.

Peniruan (Modelling)
Salah satu proses belajar melalui observasi adalah peniruan atau modeling. Bandura mengungkapkan bahwa proses observasi ataupun perhatian sangat penting dalam pembelajaran (modeling) tingkah laku karena tingkah laku yang baru (kompetensi) tidak akan diperoleh tanpa adanya proses observasi maupun perhatian pembelajar.
Sebagai contoh pada eksperimen yang sangat terkenal adalah eksperimen Bobo Doll yang menunjukkan anak – anak meniru seperti perilaku agresif dari orang dewasa disekitarnya.
Albert Bandura seorang tokoh teori belajar social ini menyatakan bahwa proses pembelajaran dapat dilaksanakan dengan lebih berkesan dengan menggunakan pendekatan “permodelan “. Beliau menjelaskan lagi bahwa aspek perhatian pelajar terhadap apa yang disampaikan atau dilakukan oleh guru dan aspek peniruan oleh pelajar akan dapat memberikan kesan yang optimum kepada pemahaman pelajar.
Eksperimen Pemodelan Bandura :
Kelompok A = Disuruh memperhatikan sekumpulan orang dewasa memukul, menumbuk, menendang, dan menjerit kearah patung besar Bobo.
Hasil = Meniru apa yang dilakukan orng dewasa malahan lebih agresif
Kelompok B = Disuruh memperhatikan sekumpulan orang dewasa bermesra dengan patung besar Bobo
Hasil = Tidak menunjukkan tingkah laku yang agresif seperti kelompok A
Rumusan : Tingkah laku anak – anak dipelajari melalui peniruan / permodelan adalah hasil dari penguatan.
Hasil Keseluruhan Eksperimen :
Kelompok A menunjukkan tingkah laku yang lebih agresif dari orang dewasa. Kelompok B tidak menunjukkan tingkah laku yang agresif
Menurut bandura, sebagian besar tingkah laku manusia dipelajari melalui peniruan (imitation) maupun penyajian contoh perilaku (modelling). Dalam hal ini orang tua dan guru memainkan peranan penting sebagai seorang model atau tokoh bagi anak untuk menirukan perilaku tertentu. Ditambakan pada penelitian bahwa hasil observasi dan wawancara menunjukkan dalam kehidupan sehari-hari, anak memunculkan perilaku agresivitas yang tinggi seperti perilaku kasar, menentang, sulit diatur, mencela, membentak, melempar, memukul, menendang, meludah, ataupun mengumpat.

FILSAFAT UMUM PSIKOLOGI : Etika Dalam Ajaran Taoisme Filsafat China


FILSAFAT CHINA TAOISME

I.                  PENDAHULUAN

Kepercayaan di dunia ada, sejalan dengan keberadaan manusia sejak manusia diciptakan. Seperti kita ketahui selama ini, bahwa manusia pertama Adam juga mempunyai kepercayaan bahwa ia diciptakan dari suatu yang memiliki kekuatan lebih.
Adapun tentang agama, suatu istilah yang digunakan untuk menunjukkan makna kenyamanan. Dengan maksud bahwa agama memiliki arti meniadakan kekacauan, huru-hara dll yang data memicu terjadinya konflik. Semua agama didunia tidak terkecuali mengajarkan pada arah yang positif, akan tetai mereka mempunyai corak dan karakter masing-masing. Dalam konteks pembahasan kali ini, makalah ini menjelaskan satu ajaran agama yang ada di dunia, yaitu Agama Tao.
Agama Tao yang kita tahu, merupakan agama-agama orang Cina yang lebih memusatkan ajarannya untuk mencintai alam semesta. Sesungguhnya tidak satupun kebudayaan di dunia ini yang mempunyai warna tunggal. Di Cina, nada-nada klasik dari agama Khong Hu Cu telah diimbangi bukan saja oleh berbagai ragam spiritual dari agama Budha melainkan juga oleh berbagai corak romantic dari Taoisme. Pada makalah ini kita akan menyoroti mengenai Etika yang diajarkan pada Ajaran Taoisme.

II.               MENGENAL TAOISME

Taoisme (Tionghoa: 道教 atau 道家 ) juga dikenal dengan Daoisme, diprakarsai oleh Laozi (老子:Lǎozǐ) sejak akhir Zaman Chunqiu yang hidup pada 604-517 sM atau abad ke-6 sebelum Masehi. Taoisme merupakan ajaran Laozi yang berdasarkan Daode Jing (道德經,pinyin:Dàodé Jīng). Awalnya Daode jing disebut Laozi Wuqianyan (老子五千言) atau Tulisan Laozi Lima Ribu Kata. Selanjutnya Dia meninggalkan ibu kota dan tidak pernah terdengar lagi kabar beritanya. Belakangan, semasa Dinasti Han (202 – 221 SM) kitab itu mulai disebut Daodejing, karena membahas mengenai Dao ( Jalan ) dan De (德, atau Kebajikan) yang diajarkan Laozi[1].Kitab singkat yang berjudul Daodejing itu, untuk selanjutnya menjadi kitab pegangan utama bagi para penganut Daoisme.Pengikut Laozi yang terkenal adalah Zhuangzi (莊子) yang merupakan tokoh penulis kitab yang berjudul Zhuangzi. Selain itu ada Lie Zi 列子, Huainan zi 淮南子 juga termasuk filsuf Taoisme. Lie Zi, Huainan Zi juga membuat kitab yang berjudul Lie Zi dan Huainan Zi.

Taoisme adalah sebuah aliran filsafat yang berasal dari Cina. Taoisme sudah berumur ribuan tahun, dan akar-akar pemikirannya telah ada sebelum masa Konfusiusme. Bentuk Taoisme yang lebih sistematis dan berupa aliran filsafat muncul kira-kira 3 abad SM. Selain aliran filsafat, Taoisme juga muncul dalam bentuk agama rakyat, yang mulai berkembang 2 abad setelah perkembangan filsafat Taoisme.
·         Ajaran Taoisme
o   Dao

III.           ETIKA DALAM AJARAN TAOISME

         Dalam menjalani kehidupan yang ada, manusia mengarah pada kehidupan yang alamiah tanpa adanya proses ikut campur. Kehidupan yang alami inilah yang menjadi suatu kebajikan dasar yang memicu munculnya tiga buah kebajikan lain yang menuntun manusia dalam kehidupannya, yaitu lemah lembut, rendah hati, dan menyangkal diri.Kelemah-lembutan merupakan teman dari kehidupan, sebaliknya, kekerasan dan kekakuan adalah teman dari kematian. Rendah hati adalah sikap mampu membatasi diri dengan berbuat seperlunya saja.Di dalam kitab Daode Ching dikatakan, “Tidak ada kutuk yang lebih besar daripada merasa kurang puas. Tidak ada dosa yang lebih besar daripada selalu ingin memiliki.Oleh karena itu, manusia yang bijaksana dan menginginkan hidup tenang dan tenteram akan mempercayakan seluruh hidupnya kepada Dao atau alam semesta.
Di dalam tulisan Lao Tzu, Sebagian besar diantaranya diringkas ke dalam perbedaan antara pasivitas dan aktivitas, antara kelembutan dan kekerasan, dan antara kompetisi dan kesabaran. Ia kemudian berpendapat, bahwa pasitivitas itu lebih menguntungkan daripada aktivitas. Kelembutan lebih berguna daripada kekerasan, dan kesabaran lebih berguna daripada kompetisi. Karena orang mudah sekali jatuh ke dalam hal-hal yang berlawanan dari yang diinginkannya, maka adalah lebih baik bagi setiap orang, jika ia mulai dengan hal-hal yang tidak diinginkannya, lalu bergerak ke hal-hal yang diinginkannya. “Untuk memperoleh sesuatu”, demikian Lao Tzu, “adalah perlu bagi orang untuk pertama-tama memberi.” Jadi, untuk mencapai sesuatu, orang harus pertama-tama memulai dengan yang berlawanan dari yang ingin dia capai. Dengan demikian, esensi dari pendekatan Lao Tzu adalah “dengan mulai mengejar tujuan dari titik yang secara diametral bertentangan dengan tujuan itu.”
Dalam Daoisme dikenal tiga kebajikan utama (The Three Jewels) yang masing-masing adalah kasih sayang (compassion), sikap tidak berlebihan (moderation), dan kesahajaan (humality).Otak hanya mampu menyimpan hal-hal yang dapat membuat manusia bertahan terhadap alam, dan mungkin diberikan potensi tambahan untuk dapat menikmati hidup yang bahagia dan mengejar mimpi dan aspirasi kita. Manusia tidak perlu mengontrol alam. Sama seperti dirimu tidak perlu dikontrol oleh orang lain, hanya dirimu sendiri yang mengontrolnya. Demikian juga alam tidak perlu diatur olehmanusia, maka hendaknya manusia tidak berkuasa mengubah-ubah kondisi alam. Alam memiliki aturannya sendiri.
Sikap tidak berlebihan (moderation) di sini sangat terkenal dengan Wu Wei. Arti harafiah dari Wu Wei itu sendiri adalah ‘tanpa tindakan’. Daosime sangat menjunjung tinggi hal ini. Saat ada hukum maka akan banyak kejahatan atau tindak kriminalitas. Jadi lebih baik diam dan semuanya akan berubah.Lao Tzu berkeyakinan bahwa Wu Wei dapat menciptakan keharmonisan masyarakat. Di dalam pandangan filsafat Taoisme, kekuasaan adalah sumber dari segala ketidakberuntungan dan kekacauan.



IV.           KESIMPULAN
Dari kesimpulan di atas, kita bisa menarik poin bahwa inti dari etika Taoisme yang ditawarkan oleh Lao Tzu adalah wu-wei, yang dalam bahasa Cina secara literer berarti xiaogan (tidak adanya tindakan). “Wu-wei”, dengan kata lain, wu-wei berarti pembatalan dan sekaligus pembatasan tingkah laku manusia, terutama tingkah laku di dalam dunia sosial. Ada beberapa tingkatan wu-wei di dalam Taoisme. Etika wu-wei adalah etika non-tindakan.
Lao Tzu sendiri sangat yakin, bahwa wu-wei akan dapat menciptakan kehidupan bermasyarakat yang harmonis dan damai. Ini adalah kebenaran yang nyata, bahwa kelemahlembutan dapat melampaui kekerasan. Walaupun begitu nyata, tetapi orang begitu cepat lupa dengan hal ini, sekaligus begitu sulit untuk mempertahankan kesadaran semacam ini.




V.               REFERENSI
K. Budiono. 2010. Sejarah Filsafat Tiongkok: Sebuah Pengantar Komprehensif. Alasutra: Jogjakarta.
https://id.m.wikipedia.org/wiki/Taoisme  diakses pada 30/12/2019